Di tengah meningkatnya harga kebutuhan pokok, biaya hidup yang makin tinggi, dan nilai uang yang terus tergerus, banyak orang mulai sadar bahwa menabung saja tidak cukup. Inflasi membuat daya beli uang kamu menurun dari tahun ke tahun. Artinya, uang Rp1 juta hari ini nilainya bisa jauh lebih kecil dalam beberapa tahun mendatang. Nah, di sinilah investasi saham mulai dilirik sebagai salah satu cara untuk melindungi sekaligus menumbuhkan aset kamu.
Tapi pertanyaannya, bagaimana cara memulai investasi saham, terutama bagi kamu yang masih pemula dan hidup di era inflasi seperti sekarang? Artikel ini akan membahas langkah demi langkah agar kamu bisa mulai berinvestasi dengan aman, terarah, dan berpotensi memberikan keuntungan jangka panjang.
Pahami Dulu Apa Itu Saham
Sebelum terjun langsung ke dunia investasi, kamu harus paham dulu apa itu saham. Secara sederhana, saham adalah bukti kepemilikan atas sebuah perusahaan. Ketika kamu membeli saham, kamu sebenarnya sedang membeli sebagian kecil dari perusahaan tersebut.
Misalnya kamu membeli saham PT XYZ Tbk, berarti kamu punya sebagian kepemilikan dari perusahaan itu, sekecil apa pun nilainya. Jika perusahaan tersebut untung dan berkembang, harga saham bisa naik dan kamu berpotensi mendapat dividen (pembagian keuntungan).
Namun, jika perusahaan merugi, nilai saham juga bisa turun. Jadi, investasi saham bukan sekadar tentang “beli murah, jual mahal”, tapi juga memahami bagaimana kondisi dan kinerja perusahaan yang kamu pilih.
Kenali Dampak Inflasi Terhadap Investasi
Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dalam suatu periode. Dalam konteks keuangan, inflasi bikin nilai uang kamu menurun. Uang Rp100.000 tahun lalu mungkin bisa belanja banyak, tapi sekarang belum tentu cukup untuk kebutuhan yang sama.
Nah, di sinilah investasi saham punya peran penting. Berbeda dengan menabung di bank, nilai saham berpotensi naik melebihi tingkat inflasi. Perusahaan yang tumbuh dan memiliki kinerja baik biasanya akan menaikkan harga produknya mengikuti inflasi, sehingga pendapatannya ikut meningkat. Dampaknya, harga saham juga bisa naik.
Artinya, dengan investasi saham, kamu punya peluang mengalahkan inflasi atau minimal menjaga agar nilai aset kamu tidak menurun.
Tentukan Tujuan Investasi Kamu

Langkah selanjutnya yang sangat penting adalah menentukan tujuan investasi. Jangan sampai kamu berinvestasi hanya karena ikut-ikutan teman. Setiap orang punya tujuan yang berbeda:
- Ada yang ingin menyiapkan dana pensiun.
- Ada yang mau biaya pendidikan anak di masa depan.
- Ada juga yang ingin mencapai kebebasan finansial.
Dengan punya tujuan yang jelas, kamu bisa menentukan strategi investasi yang tepat, misalnya berapa lama kamu mau berinvestasi, berapa risiko yang sanggup kamu ambil, dan jenis saham seperti apa yang sesuai.
Kalau tujuan kamu jangka panjang (5–10 tahun ke atas), investasi di saham blue chip bisa jadi pilihan karena cenderung stabil dan punya pertumbuhan nilai yang baik. Tapi kalau kamu ingin hasil lebih cepat, kamu bisa pilih saham second liner dengan potensi kenaikan tinggi, meski risikonya lebih besar.
Pelajari Dasar-Dasar Analisis Saham
Sebelum beli saham, kamu perlu tahu cara menilai apakah saham itu “layak dibeli” atau tidak. Ada dua pendekatan utama yang bisa kamu pelajari:
Analisis Fundamental
Ini berfokus pada kondisi perusahaan. Kamu bisa pelajari laporan keuangannya, seperti laba bersih, pendapatan, aset, utang, hingga prospek industrinya. Jika perusahaan terus mencetak laba dan punya manajemen yang solid, itu pertanda sahamnya punya potensi bagus.
Analisis Teknikal
Ini lebih fokus pada pergerakan harga saham di pasar. Kamu akan melihat grafik (chart), tren, dan pola harga untuk menentukan kapan waktu terbaik membeli atau menjual saham.
Kombinasi keduanya akan membantu kamu membuat keputusan investasi yang lebih matang. Jangan asal beli karena “katanya bagus” atau karena “lagi viral di media sosial”.
Pilih Sekuritas Terpercaya dan Buka Rekening Saham

Untuk bisa membeli saham, kamu perlu rekening efek di perusahaan sekuritas. Sekuritas adalah pihak perantara yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Di Indonesia, sudah banyak sekuritas yang menawarkan layanan online dengan biaya transaksi rendah dan aplikasi yang user-friendly.
Beberapa hal yang perlu kamu pertimbangkan saat memilih sekuritas:
- Terdaftar di OJK dan BEI (Bursa Efek Indonesia).
- Biaya transaksi (fee beli dan jual saham).
- Kemudahan penggunaan aplikasi trading.
- Fitur analisis dan edukasi untuk pemula.
Setelah memilih sekuritas, kamu bisa buka rekening saham dengan mengisi data diri, mengunggah dokumen seperti KTP dan NPWP, lalu menunggu verifikasi. Setelah aktif, kamu bisa langsung mulai membeli saham pertama kamu.
Mulai dari Nominal Kecil
Banyak orang berpikir investasi saham itu butuh modal besar. Padahal, sekarang kamu bisa mulai investasi saham hanya dengan modal Rp100.000-an saja, tergantung harga per lembar saham.
Di pasar saham Indonesia, satuan transaksi disebut “lot”, di mana 1 lot = 100 lembar saham. Jadi kalau harga saham Rp1.000 per lembar, kamu cukup butuh Rp100.000 untuk membelinya.
Mulailah dari kecil sambil belajar. Jangan buru-buru ingin hasil besar. Fokus dulu pada memahami cara kerja pasar, mengenali risiko, dan membangun strategi.
Diversifikasi Portofolio
Salah satu kesalahan umum pemula adalah menaruh semua uang di satu saham. Ini sangat berisiko, apalagi di tengah ketidakpastian ekonomi dan inflasi yang tinggi.
Kamu perlu membagi investasi ke beberapa sektor agar risiko bisa tersebar. Misalnya:
- Sebagian di saham sektor perbankan.
- Sebagian di saham energi atau teknologi.
- Sebagian kecil di sektor konsumsi atau kesehatan.
Dengan cara ini, kalau salah satu sektor turun, portofolio kamu masih bisa ditopang oleh sektor lain yang mungkin sedang naik. Diversifikasi adalah kunci agar investasi tetap aman dalam jangka panjang.
Pahami Risiko dan Kendalikan Emosi
Investasi saham punya potensi keuntungan tinggi, tapi risikonya juga besar. Harga saham bisa naik-turun setiap hari, bahkan setiap menit. Untuk itu, kamu harus siap secara mental dan jangan panik saat harga saham turun.
Kesalahan paling umum investor pemula adalah menjual saham karena takut rugi atau membeli karena FOMO (takut ketinggalan momen). Padahal, pasar saham selalu bergerak dalam siklus, naik, turun, lalu naik lagi.
Kuncinya adalah sabar dan disiplin. Kalau kamu sudah riset dengan benar, percayalah pada analisis kamu sendiri dan tetap berpegang pada rencana investasi yang sudah dibuat.
Gunakan Strategi Dollar Cost Averaging (DCA)
Salah satu strategi yang cocok untuk pemula di era inflasi adalah Dollar Cost Averaging (DCA). Caranya simpel: kamu beli saham secara rutin setiap bulan dengan nominal yang sama, tanpa peduli harga saham sedang naik atau turun.
Dengan strategi ini, kamu tidak perlu pusing menebak waktu terbaik untuk beli. Dalam jangka panjang, harga rata-rata pembelian kamu akan stabil, dan kamu terhindar dari risiko beli di harga puncak.
Terus Belajar dan Ikuti Berita Ekonomi
Dunia saham terus berubah. Pergerakan pasar sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global, kebijakan pemerintah, suku bunga, dan inflasi. Maka dari itu, kamu perlu terus memperbarui pengetahuan kamu.
Kamu bisa baca berita ekonomi, ikut webinar, atau belajar dari komunitas investor. Banyak juga platform edukasi saham gratis yang bisa kamu manfaatkan untuk menambah wawasan. Semakin banyak kamu tahu, semakin matang pula keputusan investasimu.
Kesimpulan
Investasi saham memang butuh waktu untuk dipahami, tapi bukan berarti kamu harus menundanya. Justru di tengah era inflasi seperti sekarang, semakin cepat kamu mulai, semakin besar peluang kamu untuk melindungi nilai aset dan mencapai kebebasan finansial di masa depan.
Mulailah dari langkah kecil buka rekening saham, beli satu-dua saham perusahaan bagus, dan konsisten belajar. Dalam beberapa tahun, kamu akan menyadari bahwa keputusan kecil hari ini bisa menjadi langkah besar menuju masa depan finansial yang lebih aman dan sejahtera.

